Taman Nasional Gunung Gede Pangrango: A Spiritual Journey



Perjalanan menjelajah alam bukan hal baru dan aneh untuk dilakukan. Banyak orang pernah melakukannya, setiap hari, setiap saat. Namun perjalanan kali ini membuat kekagumanku terhadap para penjelajah alam semakin besar. Seharusnya... ya seharusnya, mereka adalah orang-orang paling bersyukur, paling bersabar, paling bertaqwa, karena mereka telah banyak melihat kebesaran Tuhan melalui keindahan alam ciptaan-Nya.

15-16 Agustus 2015. Bersama teman-teman kantor aku melakukan perjalanan "back to nature" ke sebuah area berkemah (camping ground) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Mungkin akan jadi bahan tertawaan bagi para pecinta alam sejati yang telah melakukan puluhan penjelajahan di alam bebas. Namun bagiku dan kawan-kawan sekerja yang notabene urban people penggila kenyamanan dan kepraktisan, ini merupakan tantangan tersendiri.

Sebelum hari H sudah terdengar komentar-komentar miring mengenai acara ini. Sebagian karena menganggap "camping" adalah aktivitas kurang kerjaan, aktivitas anak sekolah, atau aktivitas murah dan merepotkan. Ada pula yang berkomentar "aku tidak suka alam!" Realy?!? What are you made of?

Ya, jika dibandingkan dengan perjalanan Outing yang dilakukan beberapa divisi lain ke Bali, Bangka Belitung, atau Singapore, mungkin perjalanan kami ini memang perjalanan paling sederhana dan murah. Tapi lupakah bahwa kegembiraan dan kebahagiaan tidak selamanya berbanding lurus dengan jumlah materi yang kita keluarkan?

Apakah kita tidak dapat merasakan kegembiraan dalam kesederhanaan? Mungkin kita perlu merenung sedikit apakah kebahagiaan kita sepenuhnya bergantung pada perjalanan jauh, mewah, dan mahal?

Saat tiba di lokasi berkemah kami disambut padang rumput yang luas dengan latar belakang pepohonan hijau dan Gunung Gede Pangrango yang biru di kejauhan. Kehijauan yang sungguh menyejukkan mata. Ditambah dengan murninya udara pegunungan dalam setiap helaan nafas. (This is what I need.. I want to be here in this moment forever. Hhhhh...)





Siang itu kami melakukan beberapa aktivitas fun games yang dipandu oleh kawan-kawan WisataCibodas.com. Fun games yang seru, menyenangkan, dan mengakrabkan. Sore harinya kami melakukan perjalanan "trekking" ke Curug Ciwalen. Jalan kaki santai di sore hari, menyusuri jalan setapak berbatu, menanjak dan menurun, membelah hutan nan hijau diselingi obrolan, gelak tawa, dan foto-foto bersama teman-teman merupakan sensasi lain yang jarang dapat kami nikmati di dalam rutinitas kehidupan kami sehari-hari. Jika kita berdiam akan terdengar nyanyian hutan yang berupa simfoni suara serangga, aliran sungai kecil, dan gemerisik dedaunan.











Mungkin Curug Ciwalen tidak semegah dan sepopuler Curug Cibereum. Namun dibalik kekurangpopulerannya ia memancarkan kecantikan tersendiri. Tersembunyi dan jarang dikunjungi, tempat ini terasa begitu damai. Pada saat itu hanya rombongan kami yang berada disana sehingga dunia serasa milik kami semata.

Sesungguhnya jarak tempuh menuju Curug Ciwalen terbilang sangat dekat dari lokasi tempat kami berkemah. Hanya membutuhkan 5-10 menit berjalan kaki ke sana. Jalur yang dilalui pun tidak terlalu terjal dan menyulitkan. Namun demikian, kawasan tempat Curug Ciwalen berada ini tidak dapat dikunjungi begitu saja oleh umum. Wisatawan yang akan mengunjungi Curug Ciwalen wajib didampingi oleh petugas karena di dalam area ini terdapat kawasan konservasi burung dan kelestarian ekosistem hutan. Menurut informasi yang aku dapatkan, di hutan sekitar Curug Ciwalen masih terdapat banyak hewan yang dilindungi, seperti burung, kera berekor panjang (lutung) juga macan tutul (wow!). Selain itu, masih terdapat banyak tanaman obat-obatan yang bisa dimanfaatkan.

Aku percaya bahwa kewajiban didampingi oleh petugas juga berkaitan dengan faktor keamanan, sebab di dalam jalur menuju Curug Ciwalen kita akan melalui sebuah jembatan gantung yang disebut "Canopy Trail". Canopy Trail ini hanya bisa dilewati oleh maksimal 300 kg/5 orang saja. Canopy Trail dibangun pada tahun 2010 kemduian diresmikan pada bulan Maret 2011 oleh Menteri Kehutanan. Dengan panjang lintasan 130 meter, lebar 60 cm dan ketinggian 40 m diatas permukaan tanah, jembatan ini bergoyang dalam setiap langkah yang kami pijakkan. Memacu sedikit adrenalin ketika melewatinya, namun dari jembatan itu kita dapat memandang kehijauan hutan dan pepohonan di bawahnya.















Perjalanan ini singkat namun sangat menyenangkan. Menyesap aroma hutan, memandang kehijauan, meresapi desiran air, dan bermain dalam kolam kecil curug sedingin es bersama teman-teman membuat hati ini membuncah penuh rasa bahagia.

Rasanya hati ini belum puas, namun kami harus kembali ke tenda. Hari beranjak senja. Langit temaram, udara semakin dingin.

Acara malam diisi dengan aktivitas-aktivitas yang umumnya dilakukan saat berkemah. Membuat api unggun, makan malam, bernyanyi bersama, berjoged. Malam memang dingin tetapi hati kami hangat dengan persahabatan dan kegembiraan.



















Acara malam juga diramaikan dengan suguhan pertunjukan kreativitas dari masing-masing unit kerja. Ada yang menyanyi lagu medley dengan iringan gitar akustik, ada yang berjoget "Goyang Jigo", menyanyi dangdut, hingga menari kontemporer "Lenggang Puspita", dilanjutkan dengan acara bebas hingga pukul 12 malam hingga kemudian satu persatu mulai masuk ke tenda masing-masing untuk menyerah pada rasa lelah dan kantuk yang menyergap.

Tidur di alam terbuka dengan hanya berlindung di dalam sebuah tenda memiliki kesan yang berbeda. Udara dingin yang menggigit dilembutkan dengan bergelung ke dalam sleeping bag. Tidur terasa nyenyak, mungkin karena lelahnya tubuh setelah seharian beraktivitas.

Bagai sekejap, tiba-tiba saja fajar datang menyingsing. Dengan kantuk yang masih menggelayuti mata kami menyelinap keluar dari tenda, menghela nafas dalam murninya udara pegunungan di pagi hari. Tercium aroma rumput yang basah oleh embun. Mandi dengan air pegunungan yang dingin. Dan ketika akhirnya matahari perlahan bangkit membawa kehangatan, kami bersiap untuk melakukan perjalanan ke Curug Cibereum.







Perjalanan ke Curug Cibereum memiliki kisahnya sendiri, setidaknya buatku. Cerita yang sarat dengan filosofi kehidupan. Kind of a spiritual journey of mine.

Jarak dari pos petugas menuju Curug Cibereum sekitar 2,7 Km. Kedengarannya tidak seberapa jauh kan? Apalagi untukku yang setiap minggu terbiasa jalan dan lari pagi sejauh 5 km dan bahkan lebih. Akan tetapi ternyata jalur yang harus ditempuh seluruhnya berupa tanjakan yang cukup terjal dengan hanya sedikit jalur mendatar. Pemandu memberikan pengarahan sebelum kami memulai perjalanan ini. Antara lain fisik harus sehat, pikiran tidak boleh kosong, bagi wanita yang sedang datang bulan tidak boleh jauh-jauh dari pemandu, dan selalu ingat batas kemampuan. Jika merasa tidak mampu jangan memaksakan diri.

Beberapa kawan memilih untuk tidak ikut dalam perjalanan kali ini. Rombongan yang memilih ikut mulai menanjak mengikuti petugas yang memandu. Akan tetapi medan yang harus kami lalui memang tidak main-main. Untuk kami warga perkotaan yang selalu dimanjakan dengan kendaraan bermotor dan duduk seharian di kantor, ini merupakan perjuangan berat.

Ada yang akhirnya menyerah dan kembali ke perkemahan. Ada juga yang cukup fit untuk terus naik melanjutkan perjalanan.

Aku sendiri berada dalam kebimbangan. Ego dan rasa penasaran membuatku terus mendaki. Dibalik itu keinginan untuk menyerah terus datang setiap saat. Aku tidak percaya bahwa diriku di usia ini tidak mampu menaklukan tantangan ini. Namun jalur menuju Curug Cibereum memang sangat berat untuk ditaklukan.

Awalnya aku mencoba mengejar sang pemandu yang semakin lama semakin jauh di depan. Tertinggal jauh, dengan nafas terengah-engah, sesak, dan mata mulai berkunang-kunang, aku sungguh berpikir akan menyerah saja.. "Apakah aku kalah?" batinku.

Akhirnya kuputuskan untuk berhenti. Kuhirup nafas dalam-dalam, kutenangkan nafasku yang tersengal, menyesap air mineral yang kubawa dari perkemahan. Berulang kali rasa pesimis memaksaku untuk menyerah dan kembali. Tetapi semangat juangku tidak mau kalah. Ia memaksaku untuk terus melanjutkan perjalanan.

Beberapa kali rasa kesal menggelayuti batinku. Aku masih muda. Aku sehat. Aku sering berolah raga. Tidak mungkin hanya begini saja batas kemampuanku. Masak aku tidak bisa sampai di Curug?

Dengan emosi akhirnya kuputuskan untuk mencoba lagi. Sudah sampai disini, rugi besar kalau tidak sampai ke Curug. Tapi tak seberapa jauh aku pun tak sanggup lagi. Berhenti lagi. Dan pikiran-pikiran negatif untuk menyerah kembali datang berulang-ulang.

Sungguh batas antara keberhasilan dan kegagalan mungkin hanya setipis rambut. Kenapa harus menyerah?

Kemudian dengan perlahan muncul kesadaran dalam diriku. Aku sadar dengan keinginan sebesar ini aku pasti sampai ke Curug. Tapi aku tidak perlu mengkhawatirkan orang lain. Aku tidak perlu mengejar siapapun.  

I'm in competition with no one. Now I run my own race. I have no desire to play the game of being better than anyone, in any way, shape, or form. I just aim to reach my own goal, and to be better than I was before. Like a ferish wheel, I just have to enjoy the ride.

Kesadaran ini berulangkali kutanamkan dalam pikiranku, lagi dan lagi hingga meresap ke dalam batinku.

Dengan kesadaran itu aku memaksa kakiku untuk kembali mendaki jalan berbatu. Kalau lelah aku berhenti, kemudian kulanjutkan lagi perjalanan. Selangkah demi selangkah, kali ini aku nikmati perjalananku.

Sampai akhirnya ada beberapa kawan yang menyusul. Aku bergabung bersama mereka. Sambil berhenti sesekali untuk berfoto dan beristirahat. Perjalanan jadi lebih menyenangkan dan tidak terasa. Akhirnya tibalah kami di Curug Cibereum.

Subhanallah... Curug yang megah! Itulah yang terpikir olehku pertama kali. Ada dua curug lain yang bersebelahan dengan Curug Cibereum, yaitu Curug Cikundul dan Curug Cidendeng. Tiga Curug bersebelahan, suara deburan air yang jatuh ke kolam, bebatuan nan kokoh berdiri tegak di kiri-kanannya, dan pepohonan rindang di sekitarnya sungguh merupakan pemandangan ajaib dan luar biasa untukku.

Curug Cibereum tingginya 40an meter, terletak pada ketinggian 1.675 meter di atas permukaan laut.

Alhamdulillah.. Syukurku pada-Mu ya Allah, Engkau telah mengizinkan hamba sampai di sini, untuk melihat keindahan ciptaan-Mu. Sungguh luar biasa.. Cantik, megah.. Allah Maha Besar..

Kunikmati benar setiap detik waktuku disana. Berfoto bersama teman-teman, bahkan kami mengibarkan Bendera Merah Putih di sana. Kami membuat foto di bawah Curug Cidendeng sambil mengibarkan bendera. Akan kami pasang sebagai Display Picture dan akan kami unggah ke media sosial pada tanggal 17 Agustus sebagai bentuk penghormatan kami dan kebahagiaan kami. Perjuangan kami, Upacara kami.

Walaupun bagi sebagian orang ini mungkin hanya perjalanan ringan dan tidak sampai ke puncak, tetapi perjalanan ini merupakan bentuk perjuangan kami sendiri. Mengalahkan ego, rasa ingin menyerah, melampaui segala pikiran negatif, dan pada akhirnya mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita umat manusia di bumi ini.. berupa bumi pertiwi yang cantik, alam yang gemah ripah lohjinawi. Sungguh tugas kita lah untuk menjaga dan melestarikannya.

Terngiang dalam hatiku.. "Allah telah menganugerahkan kita alam yang luar biasa, maka nikmat Tuhan mu manakah yang telah engkau dustakan?"

Take nothing but pictures, kill nothing but times, leave nothing but footprint.

See you soon my beautiful-charming Cibereum Waterfall..



















Special Thanks to:
Pak Dadang & Crew from www.WisataCibodas.com
 You are all the best crew I've might ever known.

Also my sincere gratitude to Jahja Hadi, my partner in crime, despite all disagreements that happened between us, we are a tough team. Thank you.

And to all the friends who have set aside your time to participate in this event, thank you. I hope you all enjoyed and feel the excitement as much as I do.









Comments

Popular Posts